PENDIDIKAN SASTRA BAHASA GAYA

Loading...

Jumat, 12 Maret 2010

ANALISIS GAYA BAHASA DALAM NOVEL “PUDARNYA PESONA CLEOPATRA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

ANALISIS GAYA BAHASA DALAM NOVEL


  1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Fungsi bahasa sangatlah luas, dalam kehidupan sehari-hari bahasa berfungsi sebagai lambang bunyi yang dipergunakan oleh sesuatu masyarakat untuk berinteraksi. Karya sastra adalah hasil karya manusia baik lisan maupun tulisan yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki nilai estetika yang dominan. Bahasa dan sastra memiliki hubungan erat. Melalui karya sastra pengarang berusaha menuangkan segala imajinasi yang ada melalui kata-kata. Sastra tidak lepas dari bahasa.

Novel merupakan salah satu untuk mengungkapkan sesuatu cara bebas, melibatkan permasalahan secara bebas, melibatkan permasalahan secara kompleks sehimgga menjadi sebuah dunia yang “ jadi “ penuh. Sebuah novel jelas tidak akan selesai dibaca dalam sekali duduk, karena panjangnya sebuah novel memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dala perjalanan waktu.

Sastra lahir karena doronga keinginan dasar manusia untuk mengungkapkan diri, apa yang telah dijalani dalam kehidupan dengan pengungkapan lewat bahasa. Unsure-unsur pembangun karya sastra dapat dikelompokan menjadi dua unsure yaitu unsure intrinsic dan unsure ekstrisik. Unsure intrinsic adalah unsure-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Unsure intrinsic meliputi tema, alur, penokohan, seting, sudut pandang dan gaya bahasa. Unsure ekstrinsik adalah unsure-unsur pembangun karya sastra dari luar karya sastra yang meliputi psikologi, biografi , social, historis, ekonomi, ilmu,serta agama.

Pengarang mempunyai kebebasan dalam mengunakan bahasa sehingga akan menghasilkan karya sastra yang menarik dan indah untuk dinikmati. Penyiasatan penggunaan bahasa di dalam karya sastra disebut gaya bahasa. Adanya bahasa kiasan ini akan menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian , menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan (Pradopo, 1987 : 62).

Salah satu untuk mendapatkan efek estetik dalam penggunaan gaya bahasa yaitu denga cara unsure retorika. Retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2006 : 1). Pengunaan retorika berkaitan dengan semua penggunaan unsure bahasa kiasan dan pemanfaatan bentuk citraan.

Unsure stilistika terdiri dari unsure leksikal, unsure gramatikal dan unsure retorika. Unsure leksikal meliputi kata benda,kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Bertujuan untuk mengetahui ketepatan pilihan kata yang dipilih oleh pengarang untuk tujuan estetik dan untuk mengungkapkan gagasan. Unsure gramatikal meliputi pembalikan kata, pemendekan dan pengulangan kata. Bertujuan untuk mengetahui hubungan kosa kata yang dipergunakan dalam penyusunan kalimat sehinnga jelas maksudnya. Unsure retorika yaitu suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis. Unsure retorika meliputi pemajasan, penyiasaan struktur, pencitraan dan kohesi.

Dalam hubungannya dengan stilistika, penulis mengambil novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy sebagai bahan analisis karena novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul “Pudarnya Pesona Cleopatra“ ini merupakan novel yang benar-benar mengajak kita untuk menyelami akan rindu dendam dan ungkapan pesona cinta suci karena illahi yang benar-benar mampu memberikan kebahagiaan nyata. Cerita yang dikemas sedemikian rupa, penuh hikmah bahkan membuat hati merindukan akan ungkapan cinta tulus-Nya.Tujuan analisis ini untuk mengetahui kreatifitas yang digunakan pengarang. Penulis di dalam analisis ini lebih menitikberatkan pada unsure retorika novel novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.

1.2 Identifikasi Masalah

Pengkajian dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy ini terdapat pokok-pokok permasalahan antara lain:

  1. Gaya bahasa yang ada dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.
  2. Makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.
  3. Fungsi gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy?

1.3 Pembatasan Masalah

  1. Gaya bahasa yang ada dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.
  2. makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.

1.4 Rumusan Masalah

1. Apa saja gaya bahasa yang ada dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy?

2. Apakah makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy?

1.5 Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan gaya bahasa yang ada dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.

2. Mendeskripsikan makna gaya bahasa yang digunakan dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy.

2. landasan Teori

Stilistika adalah ilmu yang mempelajari tentang gaya bahasa. Dalam kamus linguistik, stilistika adalah ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunaka dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan (Kridalaksana, 2001: 202).

Gaya bahasa menurut Slamet muljono (dalam Pradopo, 2001: 93) adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul dan hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapat efek tertentu. Dalam karya sastra efek ini adalah efek estetik yang akan membuat karya sastra akan memiliki nilai seni. Nilai karya sastra bukan semata-mata disebabkan oleh gaya bahasa, bias juga karena gaya cerita atau penyusunan alurnya. Namun demikian gaya bahasa gaya bahasa sangat besar sumbangannya kepada pencapaian nilai seni karya sastra.

Suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetisadalah unsur retorika. Macam-macam unsur retorika meliputi pemajasan, penyiasan, struktur, pencintaan dan kohesi. Namun dalam makalah ini penulis hanya menganalisis pemajasan saja. Jenis bahasa kiasan dalam bahasa Indonesia ada bermacam-macam menurut keraf (2006: 115-145). Namun hanya beberapa jenis majas yang sering dipergunakan pengarang dalam karya sastra. Diantaranya majas :

1. Simile adalah majas perbandingan yang langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain kata perbandingan seperti, bagaikan, laksana dan lain-lain (Keraf : 138).

2. Metafora adalah majas perbandingan langsung yang tidak mempergunakan kata pembanding (Keraf, 2006 : 138).

3. Personifikasi adalah majas yang menggambarkan atau memperlakukan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti manusia (Keraf, 2006 : 140)

4. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat, baik hubungan isi untuk menyatakan kulitnya dan lain-lain (Keraf, 2006 : 142)

5. Paradok adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada (Keraf, 2006 : 136)

6. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 2006 : 135)

7. Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2006 : 132)

8. Sinekdok adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebagian dari sesuatu untuk menyatakan keseluruhan (pars pro totot) keseluruhan untuk sebagian atau biasa diistilahkan totem proparte (Keraf, 2006 : 143)

3. SINOPSIS

Aku dan Raihana harus disatukan oleh sebuah perjodohan yang mungkin akan terdengar konyol di era abad 21 ini. Berbeda dengan Raihana yang benar-benar merupakan cermin wanita Jawa. Selalu Manut dan pasrah pada keadaan dengan penuh kesabaran. Si Aku justru berbanding terbalik dalam menyikapi takdir tersebut. Aku yang sempat mengeyam pendidikan dan hidup di Mesir. Menjadikannya terlalu mendasarkan parameter kecantikan kepada figur-figur gadis Mesir selayaknya Cleopatra. Meskipun begitu, kecintaannya dan bakti pada sang ibulah yang mengalahkan dengan berbau keterpaksaan, hingga akhirnya keduanya menikah.

Setelah resmi menikah dan keduanya membangun hidup baru dengan tinggal di Malang, sebagai konsekuensi pekerjaan aku yang seorang dosen. Aku semakin terbenam dalam khayalan tentang aura kecantikan gadis-gadis mesir yang terus saja menggelayut dalam benaknya. Mengakibatkan segala perilaku dan komunikasi dengan sang istri menjadi hambar. Raihana, dilandasi ketakwaan terhadap Allah dengan penuh sabar berusaha terus membuktikan kecintaan dan kepatuhan sebagai seorang istri. Seperti yang digariskan dalam ajaran agama. Walaupun semua itu tak mampu sedikitpun mengetuk rasa cinta sang suami berpaling kepadanya. Satu hal yang dihindari oleh Raihana adalah, jangan sampai sang suami menceraikannya. Karena dia tahu hal itu adalah neraka baginya, menghalangi dia mendapatkan cinta hakiki dari Allah.

Sementara itu, Aku semakin lama semakin tenggelam dalam dunia fantasinya sendiri, bahkan timbul kebencian pada sang istri yang dia anggap telah “mematikan” harapan merengkuh indahnya cinta yang dia dambakan dengan wanita Mesir yang sering hadir dalam mimpi-mimpinya. Setelah sekian lama, dengan segala derita berbeda yang mendera keduanya. Di satu sisi Raihana tidak pernah mendapatkan cinta dari suami, di sisi lain aku tak mampu memalingkan cintanya pada sang istri, bahkan dengan kehamilan istrinya sekalipun. Raihana memutuskan untuk tinggal dengan kedua orang tuanya sendiri sambil menunggu saat kelahiran anak mereka. Saat-saat tanpa istri disampinglah yang pelan-pelan mulai menyadarkan aku betapa penting kehadiran Raihana dalam hidupnya. Ditambah kemudian cerita, petuah, dan curahan hati beberapa teman dosen yang didapat aku di kampus.

Aku mendapat tugas untuk pelatihan selama sepuluh hari di Puncak. Kebetulan dalam pelatihan di Puncak Ku bertemu dengan Pak Qulyubi yang mencurahkan pengalaman hidupnya yang pahit dengan pernah menikahi gadis Mesir. Hal ini menghadirkan pemahaman baru dalam diri aku, bahwa gadis-gadis Mesir tidaklah sesempurna yang dia bayangkan. Bahkan di beberapa sisi, wanita Jawa jauh lebih baik untuk menjadi pendamping hidup. Aku akhirnya sadar, betapa beruntungnya dia memiliki seorang Raihana. Istri yang Allah karuniakan meski dengan jalan yang dulunya dia anggap sebagai produk keterbelakangan budaya. Dari situlah aku sadar, taringat dan ingin segera bertemu dengan Raihana.

Sepulang pelatihan aku berniat member hadiah sebagai ungkapan maaf dan ingin melihat raihana bahagia. Aku tak langsung ke rumah ibu mertua tapi kembali ke rumah kontrakan sesuai pesan raihana untuk mencairkan uang tabungan. Setelah dibuka kasur untuk mengambil ATM. Aku kaget karena di dapati puluhan surat curahan hari Raihana selama menjadi istri aku. Aku begitu merasa berdosa kepada Raihana. Aku benar-benar bias mencintai Raihana dan memudarkan pesona kecantikan Cleopatra. Aku langsung menuju tampat ibu mertuanya, namun yang ddi dapatinya bukan Raihan malah tangis haru ibu mertuanya. Sebelum sempat aku membagi cintanya dengan Raihana ternyata Raihana telah meninggal. Aku yang sangat mencintai Raihana sangat menyesal atas apa yang telah diperbuatnya pada Raihana yang belum sempat bisa merasakan cintanya hingga Raihana meninggal.

4. Pembahasan

Pemajasan merupakan suatu teknik penungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah, tetapi menuju pada makna tersirat. Tujuan digunakan majas atau bahasa kiasan dalam satu karya sastra dimaksudkan untuk memng-masingperoleh efek keindahan, kepuitisan dan tujuan-tujuan lainnya sesuai dengan pengertian masing-masing majas tersebut. Adapun majas atau gaya bahasa yang digunakan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ antara lain:

4.1 Metafora

Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung (Keraf : 139). Berikut contohnya:

Sehingga diriku tak ubahnya patung batu (hlm. 8).

Maksudnya adalah aku yang hanya diam tak bisa berbuat apa-apa seperti patung batu.

Jelaskan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membuat rumah ini penuh bunga-bunga indah yang bermekaran? (hlm. 10).

Maksudnya si aku ingin membuat rumahnya wangi dan berwarna dan membuat bahagia seperti dipenuhi bunga-bunga indah yang bermekaran.

Mona Zaki, aktris belia yang sedang naik daun itu? (hlm 13).

Kata terkenal dibandingkan menjadi naik daun

Dulu dia adalah bintang di kampus ini (hlm. 26).

Karena begitu pandai dan terkenal di kampus maka di sebut dengan bintang di kampus.

Menurut cerita Pak Soerdarmaji, Zaenab memang tidak secantik bintang film tapi untuk ukuran di desanya bisa dikatakan kembang desa (hlm. 26).

Sebagai gadis paling cantik di desanya dibandingkan dengan kata kembang desa.

4.2 Simile

Simile merupakan perbandingan yang bersifat eksplisit, maksudnya ialah bahwa ia lansung mengatakan sesuatu sama dengan hal lain (Keraf: 138). Dalam hal ini bahasa yang membandingkan mengunakan kata-kata perbandingan, terlihat dalam ketipan berikut:

a. menggunakan kata “seumpama”:

hari pernikahan itu datang. Aku datang seumpama tawanan yang digiring ke tiang gantungan (hlm. 4).

Dalam kalimat di atas, kata “seumpama” menjelaskan makna bahwa kedatangan si aku yang diumpamakan seperti seorang tawanan yang digiring ke tiang gantungan yang berarti karena terpaksa si aku melakukan itu.

b. Menggunakan kata “seperti”:

Dalam balutan jilbab sutera putih wajah gadis Mesir itu bersinar-sinar, seperti permata Zabarjad yang bersih, indah berkilauan tertimpa sinar purnama (hlm. 3).

Dalam hal ini diartikan wajah gadis Mesir yang berbalut jilbab dibandingkan secantik permata Zabarjad yang bersih, indah berkilauan tertimpa sinar.

Meskipun Cuma mimpi itu sangat indah dan seperti dalam alam nyata (hlm. 15).

Maksudnya adalah mimpinya terasa seperti kenyataan, munkin karena saking indahnya mimpi si aku itu.

Kelembutannya seperti Dewi Sembodro tak juga membuatku jatuh cinta (hlm. 16).

Dewi Sembodro adalah tokoh pewayangan yang sangat lembut, hal inilah yang membuat pengarang membandingkan kelembutan tokoh Raihana dengan Dewi sembodro.

Aku ingin mencintai isteriku seperti Ibnu Hazm mencintai isterinya. Dan aku ingin dicintai isteriku seperti Ibnu Hazm dicintai isterinya (hlm. 19).

Si aku membandingan ia dapat mencintai isterinya seperti Ibnu Hazm mencintai isterinya. Dan aku ingin dicintai isteriku seperti Ibnu Hazm dicintai isterinya

Dan jika ada sedikit letupan atau masalah antara kami berdua, maka rumah seperti neraka (hlm. 34) .

Karena saking panasnya keadaan rumah jika terjadi masalah hingga dibandingkan seperti neraka.

Kini saya merasa menjadi lelaki paling malang di dunia. Dan hati saya seperti ditusuk-tusuk dengan sembilu setiap kali mendengar si sulung mengigau meminta ibunya pulang tiap malam (hlm. 38).

Hati yang sakit di gambarkan dengan seperti ditusuk-tusuk dengan sembilu.

c. Menggunakan kata “bagai”:

Lalu duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa, tanpa cinta (hlm. 4).

Hal ini memperlihatkan adanya perumpamaan bahwa si aku hanya diam seperti mayat hidup.

d. Menggunakan kata “bagaikan”:

Kata-katanya terasa bagaikan ocehan penjual jamu yang tak kusuka (hlm. 10).

Dalam hal ini perkataan yang dianggap tidak penting dibandingkan seperti ocehan penjual jamu.

Kata-kata yasmin yang terdengar bagaikan geledek menyambar itu terasa perih menikam ulu hati (hlm. 36).

Dalam hal ini kata-kata yang dilontarkan begitu keras dalam artian menyakitkan, dan mengagetkan hingga dibandingkan dengan geledek yang pada hakikatnya suara geledek itu keras dan mengagetkan.

4.3 Hiperbola

Adalah gaya bahasa yang mangandung ungkapan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf: 135). Contohnya:

Jika tersenyum lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya. Aura kecantikan gadis Mesir titisan Cleopatra sedemikian kuat mengakar dalam otak perasaan dan hatiku (hlm. 3).

Bibit cinta yang kuharapkan malah menjelma menjadi pohon-pohon kaktus berduri yang tumbuh mengganjal di dalam hatiku (hlm. 4).

Sinar wajah ibu berkilat-kilat, hadir di depan mataku (hlm. 4).

Hatiku bergetar hebat (hlm. 14).

Tangis Raihana tak juga mampu membuka jendela hatiku (hlm. 16).

Tangisku meledak (hlm. 42).

Di samping karena kecantikannya yang menyihir siapa saja yang melihatnya saya juga merasa sangat prestise jika berhasil menyuntingnya (hlm. 32).

4.4 Personifikasi

Adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan banda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (Keraf : 140). Di sini kami mengambil beberapa contoh gaya bahasa personiikasi yang digunakan pengarang.

Meskipun sesungguhnya dalam hatiku ada kecemasan-kecemasan yang mengintai (hlm. 3).

Dalam hal ini, kecemasan sebagai suasana hati atau perasaan seseorang yang digambarkan mamiliki sifat seperti manusia yang mengintai.

Saat Raihana tersenyum mengembang, hatiku merintih menangisi kebohongan dan kepura-puraanku (hlm. 5).

“Hatiku merintih” merupakan bahasa kiasan dimana hati yang digambarkan bias merintih seperti manusia.

Pertanyaan-pertanyaan itu menebas leher kemanusiaanku (hlm. 5).

Sukmaku menjeri-menjerit, mengiba-iba (hlm. 42).

4.5 Metonimia

Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena memiliki pertalian yang sangat erat (Keraf : 142).

Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku (hlm. 2).

Dalam hal ini terjadi pertalian hubungan berupa sebab untuk akibat.

Aku justru melihat jika ada delapan gadis Mesir maka yang cantik ada enam belas karena bayangannya juga ikut cantik (hlm. 17).

Dalam hal ini terjadi pertalian hubungan berupa akibat untuk sebab.

4.6 Litotes

Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan untuk merendahkan diri. Gaya bahasa ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut:

Gaji saya sebagai dosen hanya cukup untuk makan saja (hlm. 33).

Dalam hal ini terlihat segali, digambarkan dengan gaji seorang dosen yang hanya cukup untuk makan saja.

4.7 Sinekdoke

Gaya bahasa ini terdiri atas dua macam, yaitu sinekdoke pars pro toto (mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan) dan sinekdoke totem proparte (mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian) (Keraf : 142).

a. Sinekdoke pars pro toto. Misalnya:

Wajah-wajah yang cukup manis tapi tidak semanis dan seindah gadis-gadis lembah sungai Nil (hlm. 12).

Maksudnya, lembah sungai Nil mewakili untuk menyebutkan Mesir.

b. Sinekdoke totem proparte

Anda sangat beruntung orang Indonesia (hlm. 14).

Maksudnya, penunjukan orang Indonesia yang luas sesungguhnya hanya ditujukan pada satu orang.

4.8 Paradoks

Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.

Aku biasanya suka romantis kenapa bisa begini sadis (hlm. 7).

Dalam hal ini terjadi pertentangan yang nyata yang diperlihatkan melalui gambaran perasaan si aku.

4.9 Rujuk Silang

Aku dan Raihana nyarus hidup dalam kehidupan masing-masing. Aktivitas kami hanya sesekali bertemu di meja makan dan saat sesekali shalat malam (hlm. 16).

Aku kembali larut dalam perjalanan hidup Imam Ibnu Hazm bersama istrinya, Samar. Mereka hidup penuh cinta dan kasih sayang (hlm. 18-19).

Dia dan isterinya berangkat ke sana. Anak mereka yang berusia tiga tahun dibawa serta (hlm. 25).

5. KESIMPULAN

Karta sastra novel mempunyai nilai estetik yang tinggi yang dituangkan dalam tulisan yang mengandung gaya bahasa atau atyle. Dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy banyak dijumpai unsure-unsur style dalam penggunaan gaya bahasanya. Gaya bahasa yang digunakan pengarang antara lain; metafora, simile, personifikasi, hiperbola, metonimia, sinekdoke, litotes, paradox, dan rujuk silang. Penggunaan gaya bahasa yang paling dominan adalah simile, sedangkan yang sedikit dipakai adalah litotes.

Gaya bahasa yang dipakai dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra“ karya Habiburrahman El Shirazy sangat seuai dalam perangkaiannya. Penggunaan kalimat serta klausa yang indah membuat novel ini indah untuk dibaca dan dipelajari secara kusus tentang nilai kesasteraannya. tugas trimo 2009

2 komentar:

  1. salah satu novel yang sangat luar biasa dari kak abieb. Kereen.

    BalasHapus
  2. ijin buat nyimak om. lagi ngerjain skripsi tentang sastra moga bisa jadi prtimbangan untuk make language style buat skripsi. terima ksaih

    BalasHapus